Berkenaan
dengan tema Mengapa Pengembangan Energi Alternatif Terkendala? yang
terkandung dalam pesan (artikel) berjudul Desa
Mandiri Energi di www.darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya setuju karena sebenarnya bila kita
masyarakat Indonesia lebih gencar dalam memanfaatkan berbagai energi alternatif
yang ada di sekitar kita dan menjadikan desanya menjadi desa mandiri energi,
tentu akan lebih mengemat BBM lebih banyak. Pembangunan desa dan diversifikasi
energi tentu tak semudah
membalikkan telapak tangan. Oleh karena itu, perlu dukungan dan campur tangan berbagai
pihak, pemerintah pusat, daerah, dan warga sekitar.
Tahun
2007, Grobogan, Jawa Tengah, menjadi tempat peluncuran Program DME (Desa
Mandiri Energi) kemudian dilanjutkan desa-desa lainnya hingga akhir 2014 nanti ditargetkan
terbentuk 3.000 DME. Meskipun persentasenya sangat kecil dibanding dengan
70ribu desa yang ada di Indonesia, namun apabila target itu tercapai maka akan
sangat membantu dalam penghematan BBM dan pembangunan Indonesia yang lebih
merata. Jika dilihat perkembangan DME dari tahun ke tahun cukup signifikan,
tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga di luar Jawa. Manfaat DME pun dirasa
sangat menguntungkan bagi warga setempat. Misalnya, di desa Haur Ngombong,
Sumedang, pemanfaatan kotoran sapi menjadi energi alternatif biogas sangat
membantu warga setempat untuk memasak dan sebagainya.
Sumber gambar disini |
Lalu, mengapa pengembangan energi alternatif terkendala? Banyak faktor (kendala) yang mempengaruhi
pengembangan energi alternatif, dalam hal ini saya rangkum dalam 4 K:
1. Ketidaktahuan/keacuhan
Sekarang ini,
masyarakat Indonesia (tidak semua) seperti terkena sindrom latah -baca: meniru-, ya liat saja, dari trend fashion sampai
tayangan di TV. Saat Jepang, booming
dengan gaya harajuku-nya, punk Indonesia pun bertebaran. Saat Korea, sedang
heboh dengan joged Gangnam-nya, Indonesia juga ga mau kalah, ada goyang Cesar,
goyang Jebret sampai goyang Bang Jali. Sayangnya, sindrom latah itu tidak
berlaku di dunia pendidikan, maupun pemanfaatan energi alternatifnya. Coba
saja, kalau di suruh goyang Cesar, pasti bisa! Kalau ditanya, bagaimana
pemanfaatan energi alternatif di Indonesia? Pasti manyun! Manyun karena tidak
tahu atau memang acuh. Ngapain mikirin energi alternatif segala, toh selama ini
masih bisa beli BBM! Nah, pikiran yang seperti itulah yang menjadi kendala
terbesar dalam pengembangan
energi alternatif! Bagaimana bisa energi alternatif berkembang sementara pelaku
SDM-nya sendiri, masih egois untuk terus memanfaatkan BBM semaksimal mungkin.
Seingat
saya, sewaktu sekolah memang sudah dikenalkan, mana energi yang dapat
diperbarui dan mana yang dapat diperbarui. Tetapi, untuk pemanfaatannya hanya
dalam contoh, belum ada kegiatan aplikasi nyata dalam pengembangan energi
alternatif. Karena itulah energi alternatif hanya tersimpan dalam memori jangka
pendek yang menjadikan kita acuh terhadap sumber daya alam yang ada. Padahal,
kita tidak bisa terus mengeksploitasi bahan bakar fosil yang lama-kelamaan
semakin menipis. Sekolah dan perguruan tinggi menjadi sarana yang tepat untuk
lebih menyadarkan generasi muda untuk lebih peduli terhadap pemanfaatan energi
alternatif. Cinta lingkungan adalah salah satu nilai karakter yang dikembangkan
dalam pembelajaran di sekolah/PT. Dengan, mengajak siswa/mahasiswa melakukan
aplikasi pemanfaatan energi alternatif dalam kehidupan sehari-hari, maka nilai
karakter cinta lingkungan pun dapat tertanam dalam diri generasi muda.
2. Kurangnya sosialiasi
Saat ini, hampir
setiap propinsi di Indonesia telah memiliki desa mandiri energi. Namun, sejauh
mana masyarakat Indonesia mengetahui keberadaan DME tersebut? Saat ini keberadaan
desa mandiri energi rupanya masih sebatas untuk kepentingan warga setempat
saja, belum disosialisasikan secara luas. Jika sudah disosialisasikan pun,
belum ada tindak lanjut. Contohnya saya, dari ratusan desa mandiri energi yang
tersebar di Indonesia, paling saya hanya bisa menyebutkan tidak lebih dari 5
DME dan yang saya ketahui hanya DME yang memanfaatkan kotoran hewan untuk biogas
saja. Padahal, DME berbasis biogas ini tidak hanya dari kotoran hewan saja,
tetapi dari limbah/ampas tahu, ampas kelapa dan yang lain. Ada juga desa
mandiri energi mikro hidro yaitu dengan memanfaatkan beda
ketinggian dan jumlah debit air per detik yang ada pada saluran irigasi, air
terjun, ataupun sungai yang dibendung.
Artikel Listrik Bantar
Gebang, benar-benar membuat saya heran, ternyata begitu banyak hal yang
luput dari perhatian kita. Pengolahan sampah menjadi listrik, dan sisanya
menjadi pupuk kompos. Seharusnya, pemerintah daerah lain mampu mencontoh untuk
dikembangkan di daerahnya. Bukankah di setiap daerah -kota/desa- memiliki
potensi sampah yang sangat besar? Tetapi, kenapa proyek sebagus ini tidak
disosialisasikan dengan gencar? Saya rasa jika pemda setempat serius
bekerjasama dengan warga untuk mengembangkan energi alternatif, maka target
akhir 2014 muncul 3000 DME pun dapat terwujud bahkan terlampaui.
Sebelum
saya lanjutkan, siapa yang tau ini?
![]() |
Sumber gambar disini |
Atau ini ,,,
![]() |
Sumber gambar disini |
Ya, semuanya tau, hafal semua personilnya dan lirik lagunya,
sekarang ada yang tau ini?
![]() |
Sumber gambar disini |
Yang ini, semua juga sudah tau, tetapi ada yang berbeda di Tempat
Pembuangan Sampah (TPA) di Bantar Gebang ini, ada listrik di TPA tersebut.
Keberadaan DME saat ini, nampaknya masih belum terlihat secara
luas di tengah masyarakat. Apalagi bagi generasi muda, DME masih kalah tenar
dengan Coboy Junior, Cherry Belle, JKT 48 atau Smash. Katakanlah saya yang
kuper, jadi saya ketinggalan sosialisasi mengenai DME ini. Adakah yang bisa
memberitahu saya bagaimana cara mengusulkan suatu desa menjadi DME? Kebetulan
desa tempat nenek saya dan desa asal suami berpotensi menjadi desa mandiri
energi, dengan mayoritas penduduk sebagai peternak sapi, maka kotorannya dapat
dimanfaatkan sebagai biogas. Langkah apa yang harus saya lakukan untuk membantu
membangun desa mandiri energi? Di daerah saya juga ada Tempat Pembuangan Sampah
(TPA) yang cukup besar dan cukup jauh dari pemukiman. Langkah apa yang bisa
saya lakukan untuk mengubah TPA di daerah saya menjadi Tempat Pengolahan Sampah
Terpadu (TPST), seperti di Bantar Gebang?
Menurut saya, Kementrian ESDM perlu menyediakan website/call center khusus yang
memberikan informasi dan melayani tanya jawab mengenai DME ini. Sehingga,
warga, khususnya generasi muda yang berkeinginan memajukan desanya, dengan
potensi SDA yang dimiliki, seperti peternakan, sungai, limbah tahu ataupun
sampah dapat mengambil langkah. Warga atau generasi muda harus menyusun
proposal kemudian diajukan ke pemda, atau hanya diam saja menunggu giliran dari
pemerintah. Ke depan mungkin desa
mandiri energi bisa dijadikan tujuan karya wisata siswa/mahasiswa, sehingga
membangun kepedulian generasi muda pada pemanfaatan energi alternatif.
3. Kesiapan SDM
Hasil pengamatan
saya, para generasi muda sekarang masih banyak yang memilih di zona aman. Lulus
kuliah, cari kerja. Bukan menciptakan pekerjaan. Dapat dilihat di setiap event
job fair tidak pernah sepi. Para generasi muda berbondong-bondong mengantri
sambil membawa berkas lamaran. Ya, SDM kita belum siap jika harus bekerja
diluar ruangan yang dingin, apalagi di desa. Orang kota tetap di kota, orang
desa enggan balik ke desa. Alhasil, desa mandiri energi pun hanya mendapat
sedikit perhatian dari mereka. Setelah melihat SDA yang ada di desa, pemerintah
seharusnya juga melihat potensi SDM yang ada, para warga, terutama kaum muda
dilatih dan diberdayakan semaksimal mungkin untuk mengembangkan DME di desanya
sendiri ataupun di desa lainnya yang memiliki potensi SDA yang sama. Bila
demikian, desa mandiri energi dapat menjadi peluang karir bagi generasi muda.
Dengan keterampilan yang dimiliki generasi muda, apabila berhasil mengembangkan
DME, maka ia akan dikirim untuk memberikan penyuluhan di desa lainnya untuk memunculkan
DME yang lain.
Pemanfaatan
energi alternatif dalam mewujudkan desa mandiri energi membutuhkan tekad yang
besar dari semua pihak. Apalagi jika memilih nuklir sebagai energi alternatif maka
ingat kembali ulasan dalam artikel Yang
Masih Misteri di Nusantara, mengingatkan kita lagi bahwa Indonesia
merupakan salah satu negeri cincin api dimana beberapa kawasan di Indonesia
sangat berpotensi terjadi gempa. Oleh karena itu, perlu studi lanjut kawasan
mana yang potensi gempanya minimal. Warga sekitar juga harus sudah dibekali
dengan mitigasi bencana jika suatu hal yang tidak tidak diinginkan terjadi,
sehingga bisa meminimalisir korban ataupun kerugian.
4. Ketidakpercayaan
Dikecewakan
berkali-kali, nampaknya membuat masyarakat trauma dan susah mengembalikan
kepercayaan. Bencana Lapindo, mungkin masih terbayang di benak kita semua.
Berapa kerugian yang dialami warga setempat dari bencana Lapindo tersebut?
Langkah apa saja yang sudah dilakukan pemerintah untuk mengatasi dampak dari
bencana Lapindo? Apakah cukup ganti rugi yang diberikan kepada korban dari
perusahaan terkait? Sebagian besar masyarakat menilai bahwa belum ada perhatian
khusus dari pemerintah untuk korban. Penanganan bencana belum tuntas, namun,
beritanya lambat laun menghilang seiring merebaknya berita korupsi di TV maupun
koran.
Berita kebocoran
nuklir di Fukushima, Jepang, 2011 lalu rupanya masih hangat di telinga kita.
Maklum saja, jika rencana pembangunan PLTN di beberapa daerah masih mengalami
pro dan kontra dan semakin menambah ketidakpercayaan masyarakat mengenai
kesiapan dalam pengembangan energi alternatif ini. Meski saya tahu manfaat
energi nuklir yang begitu besar terhadap pasokan listrik nantinya, tetapi saya
tetap masuk dalam kelompok kontra. Kenapa? Ngeri rasanya, bila membayangkan
jika nanti terjadi gempa dan tragedi Fukushima terjadi di Indonesia, saya ragu
pemerintah kita dapat dengan cepat dan tanggap mensterilkan daerah yang
teradiasi dan melakukan tindakan preventif untuk mencegah kebocoran tangki
nuklir. Di Jepang saja bisa bocor apalagi di Indonesia? Ya, lagi-lagi masalah
ketidakpercayaan.
Itulah
ulasan saya mengenai 4 K (Ketidaktahuan/keacuhan-Kurangnya sosialisasi-Kesiapan
SDM-Ketidakpercayaan) yang dapat menjawab pertanyaan Mengapa Pengembangan Energi Alternatif
Terkendala? Semoga tulisan ini dapat
memberikan pengalaman bagi kita semua dan semakin menumbuhkan kepedulian kita
terhadap kemajuan bangsa ini. Kalau bukan kita, siapa lagi?
Sumber:
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari
www.darwinsaleh.com. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan
jiplakan.