Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Februari 2014 0 komentar

Kegiatan si kecil di sekolah

Sebelumnya saya kenalkan dulu dengan anak saya, namanya Devandra Zhafran Al Fikar, usianya saat pertama kali saya masukkan di tempat penitipan anak ini 18 bulan, alasan kenapa saya memilih TPA ini sudah saya bahas di postingan sebelumnya. Intinya ga cuma TPA aja, jadi kalau pagi, masuk kelas PAUD bareng kakak-kakak yang usianya setaun lebih tua dari dia. Setelah PAUD selesai baru kembali ke TPA-nya. Nah, ini dia kegiatan Devandra di sekolah....




















Masuk kelas, menari bersama kakak-kakak dan miss2 pengajar di PAUD. 


















Bergandeng tangan membuat lingkaran besar




















Capek menari dan loncat-loncat, tiduran dulu ^_^
























Masuk sentra bareng Alif dan Ken yang usianya hampir 3 tahun & serius banget liatin ikannya.
Hasil pancingannya di bawa ke rumah eyah ^_^
























Bobo' siang dulu...
























Pulaang,, girang banget kalo ayah sama mamanya udah jemput ^_^
Sabtu, 21 Desember 2013 0 komentar

Tempat Penitipan Anak (TPA) VS Asisten Rumah Tangga (ART)

Bagi suami istri yang bekerja dan memiliki anak kecil pasti pernah merasakan dilema dan kegalauan yang mendalam,seperti saya dan suami. Terutama saya sebagai istri yang memang kewajiban utama saya adalah bukan bekerja -mencari uang- , tetapi mengurus rumah tangga. Tetapi, rasanya saya sendiri tidak betah jika harus di rumah, dan lagi dari sejak pacaran terus menikah tidak ada pembahasan dengan suami nanti saya harus di rumah/tidak bekerja. Rasanya senang bila saya bisa membelikan baju, mainan si kecil dengan hasil kerja saya sendiri tanpa membebani suami.

Dari menikah, hamil, lalu melahirkan sampai anak saya 1,5 tahun, saya dan suami masih tinggal di rumah mama. Meskipun, sebenarnya kami sudah punya rumah sendiri, yang hanya kami kunjungi ketika weekend. Alasannya karena si kecil masih butuh pengawasan ekstra, meski diasuh ART ketika ditinggal, masih ada om dan eyangnya yang mengawasi. Jadi, saya dan suami cukup tenang ketika bekerja. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk hidup mandiri di rumah kami.

Kegalauan itu pun datang. Bagaimana dengan si kecil jika kami bekerja? Apakah harus dititipkan? Apakah perlu ART? Lalu kami pun mulai melakukan survey TPA di sekitar rumah, dan berpesan kepada tetangga jika ada tenaga pocokan yang bisa mengasuh anak. Ada beberapa pertimbangan yang kami dapatkan:

1.   Jika menggunakan ART di rumah, sekarang tidak ada yang mengawasi, terlebih banyak berita negatif di TV mengenai pengasuh anak di TV. Di TPA, jika pengasuh tidak jeli mengawasi anak satu per satu juga bisa menimbulkan hal yang tidak diinginkan misal, anak jatuh atau bertengkar dengan temannya. Setelah saya mengunjungi TPA di dekat rumah , saya belum juga sreg kalau si kecil harus dititipkan disitu. Selain, karena sistemnya yang kurang menarik bagi anak-anak juga karena tempatnya yang kurang steril untuk anak menurut saya. Kotak P3K pun tidak tersedia. (Catatan: Tidak menutup kemungkinan saya akan menitipkan si kecil disitu, bila sistemnya sudah baik, kelebihannya adalah sangat dekat dengan rumah, bisa ditempuh dengan berjalan kaki)

2.  Dari cerita pengalaman ketika saya kecil dulu, ketika saya kecil, mama saya senang karena ketika disuapin oleh ART selalu habis bahkan nambah. Usut punya usut ternyata makanan saya itu disuapkan ke anak tetangga, pantas saja cepat habis. Kasihan banget ya nasib saya?? Nah, saya ga mau donk anak saya mengalami nasib sama kaya saya dulu. Nah, kalau di TPA bisa saja si kecil jadi semangat makan karena liat temen-temennya pada makan, atau malah jatah makannya dimakan juga sama temennya? Nah lo!!

3. Kalau sama ART, bisa jadi diajak nonton sinetron mulu, ditinggal nelpon/sms-an, atau diajak gosip bareng ART sebelah rumah. Nah, kalau di TPA, si kecil bisa bersosialisasi dengan temannya dan saling berbagi. Nah, yang saya khawatirin kalau ada temennya yang lagi batuk/pilek, jadi gampang tertular juga.

Selasa, 17 Desember 2013 0 komentar

Gadget untuk si kecil: Pentingkah?

Perkembangan teknologi sekarang ini menempatkan gadget sebagai kebutuhan pokok seperti papan, sandang, dan pangan. Ya, lihat saja, semua orang dari muda sampai tua, dari jenjang pre school sampai perguruan tinggi, dan lapisan masyarakat mana pun semua menenteng gadget. Saya dan suami yang bekerja di dunia pendidikan pun mengakui bahwa peran gadget ini sangat penting dalam dunia pendidikan, juga dalam mendidik si kecil.

Putra kami, Devandra, yang saat ini berusia 21 bulan bisa dibilang dalam masa golden age. Maka, kami pun sangat berhati-hati dalam hal memilihkan mainan. Biasanya kami membelikan mainan sesuai label usia di kemasan mainan. Tanpa kami sadari di usianya yang hampir 2 tahun ini, si kecil sudah begitu dekat dengan gadget -smartphone/handphone/tablet- kami. Saya masih ingat, waktu saya hamil, saya pernah ngobrol dengan suami tentang pengalaman teman/saudara kami yang seumuran dan lebih dulu punya anak.

Diberdayakan oleh Blogger.
 
;